Thursday, 15 July 2021 07:46

Ojol di tengah pandemi COVID-19, antara risiko dan kemanusiaan

Written by
Rate this item
(0 votes)

Sampit (ANTARA) - Inisiatif Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengundang perusahaan atau kelompok ojek online atau sering disebut ojol, menjadi ajang curhat para pekerja jasa transportasi tersebut. 

"Situasi saat ini memang cukup riskan. Selama ini yang order sebagian ada yang jujur menyampaikan bahwa dia sedang isolasi mandiri, tetapi ada juga yang tidak menyampaikan," kata Imam Malik, dari PasJek saat pertemuan di Sampit, Rabu. 

Informasi yang disampaikan Imam seakan mewakili suara puluhan pengendara ojol yang ada di daerah ini. Saat ini diperkirakan ada lebih dari 100 orang pengendara ojol yang tergabung dalam beberapa kelompok. 

Setidaknya ada delapan perwakilan kelompok ojol yang hadir saat pertemuan dipimpin Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Multazam didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin Timur Yephi Hartady. 

Perwakilan ojol secara bergantian menyampaikan uneg-uneg dan apa yang mereka rasakan saat ini. Mereka merasa senang karena pemerintah daerah memperhatikan keberadaan mereka. 

Diakui, pandemi COVID-19 yang terjadi lebih dari setahun, terlebih saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro saat ini berdampak terhadap jasa ojol. Umumnya terjadi peningkatan, khususnya jasa pengantaran makanan lantaran rumah makan dan kafe dikenakan pembatasan jam operasional. 

Namun di sisi lain, mereka kini menjadi salah satu kelompok profesi yang rentan terpapar COVID-19. Saat mengantar pesanan pengorder yang ternyata sedang melakukan isolasi mandiri karena positif COVID-19, bukan tidak mungkin mereka juga terpapar saat berinteraksi, apalagi jika penderita tersebut tidak jujur bahwa sedang menjalani isolasi mandiri. 

Ketika berada dalam situasi ini, pengendara ojol mengenyampingkan egoisme memikirkan penghasilan. Mereka berempati bahwa yang mereka lakukan saat ini juga demi kemanusiaan.

Selain untuk membantu pasien COVID-19 isolasi mandiri agar bisa mendapatkan makanan yang diinginkan dengan membeli secara online, kehadiran pengendara ojol juga secara tidak langsung turut menjadi upaya memutus mata rantai penularan COVID-19 karena penderita tidak perlu ke luar rumah untuk membeli makanan. Terlebih saat ini kasus penularan COVID-19 di Kotawaringin Timur sedang melonjak tinggi.

Mereka turut prihatin karena yang bertambah tidak hanya jumlah penderita, tetapi juga jumlah pasien COVID-19 yang meninggal dunia. Hingga Rabu siang, jumlah kasus COVID-19 di Kotawaringin Timur sudah mencapai 3.714 kasus, terdiri dari 3.155 kasus sembuh, 454 masih ditangani dan 105 orang meninggal dunia. Namun sebagai manusia biasa, para pengendara ojol juga memikirkan risiko pekerjaan mereka saat ini.

Jika tidak hati-hati saat melayani pesanan pasien COVID-19 isolasi mandiri, mereka juga bisa terpapar virus mematikan itu. Sebagai upaya pencegahan, mereka berusaha semaksimal mungkin menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Penggunaan masker, hand sanitizer dan sarung tangan, menjadi standar operasi dan prosedur wajib bagi mereka. 

Mereka kini juga umumnya menanyakan apakah pemesan jasa antar makanan adalah pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri atau tidak. Jika ternyata pasien isolasi mandiri, maka mereka harus lebih ketat dalam menjalankan protokol kesehatan. Kontak fisik tentu harus dihindari.

Bagi pasien COVID-19 isolasi mandiri yang jujur, umumnya menginformasikan kondisi mereka dan meminta pesanan digantung di pagar agar tidak terjadi kontak fisik. Untuk pembayaran, sebagian kelompok ojol meminta pembayaran dilakukan melalui transfer.

Jika pembayaran langsung pun, uang disepakati disemprot desinfektan untuk memastikan tidak terkontaminasi virus berbahaya tersebut. 

"Kami jalankan protokol kesehatan, sarung tangan dan hand sanitizer. Operator kami biasanya menanyakan kepada konsumen apakah sedang isolasi mandiri atau tidak sehingga bisa menjadi antisipasi. Bagi pasien, pembayarannya diminta secara transfer," kata Junaidi, dari kelompok ojol Abang Ojek. 

Asosiasi ojol mendukung langkah pemerintah daerah memasang stiker di setiap rumah penderita COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri. Dengan begitu pengendara ojol bisa mengantisipasi saat mengantar pesanan. 

“Kalau sudah tahu jelas bahwa itu pasien COVID-19 isolasi mandiri, kami juga bisa memberlakukan kebijakan dengan misi kemanusiaan, misalnya memberi diskon atau bantuan lain," kata pengendara ojol lainnya. Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Kotawaringin Timur Multazam mengatakan, penanggulangan pandemi ini memerlukan dukungan semua pihak, termasuk para pengendara ojol.

Pihaknya sengaja mengumpulkan pengendara ojol untuk menyamakan pemahaman tentang situasi saat ini. 

"Kami berharap dukungan ojol. Kita upayakan yang isoman tidak keluyuran mencari makan di luar. Kami juga sudah mengingatkan pengusaha kuliner untuk memprioritaskan pelayanan untuk dibawa pulang.

Nanti juga kita upayakan pengendara ojol diprioritaskan vaksinasi karena mereka termasuk rawan," ujar Multazam. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotawaringin Timur Yephi Hartady mengatakan, pandemi COVID-19 saat ini memberi peluang lebih bagi pengendara ojol, tetapi risikonya juga lebih tinggi. 

"Bukan dihindari, tapi harus tahu cara menghadapinya agar terhindar dari penularan. Jangan paksakan kalau sedang sakit. Ojol sangat membantu. Kita akan terus menjalin komunikasi dan koordinasi," kata Yephi. Sementara itu usai pertemuan, Satgas Penanganan COVID-19 Kotawaringin Timur memberikan masker kepada kelompok ojol untuk digunakan setiap hari. 

Pewarta : Norjani

Uploader : Admin 2                        

COPYRIGHT © ANTARA 2021

Read 447 times