Kondisi Geografis

Secara geografi Kabupaten Kotawaringin Timur terletak di antara 11100’50 – 11300’46 Bujur Timur (BT) dan 00’23’14” – 3032’54” Lintang Selatan (LS). Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki wilayah seluas 16.496 km2 dengan batas-batas wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Seruyan
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Katingan
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa

Berikut peta wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Peta Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur
Peta Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur

Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki topografi yang bervariasi yang dapat dibagi dalam 3 (tiga) wilayah bagian sebagai berikut :

  1. Bagian Selatan : Kelompok lereng 0 – 2 %, adalah wilayah dataran rendah merupakan daerah pantai dan rawa dengan jenis tanah orgosol dan alluvial gleihumus yang memiliki unsur hara yang baik, di bagian pesisir dengan jenis tanah alluvial marin yang memiliki unsur hara rendah, dipengaruhi pasang surut air laut, dengan ketinggian 50 m DPL;
  2. Bagian Tengah : Kelompok lereng 2 – 15 %, adalah wilayah dataran yang sebagian besar ditumbuhi hutan tropis, memiliki jenis tanah podsol air tanah, podsolik kuning, dan alluvial gleihumus yang berada di sepanjang sungai, dengan ketinggian 50 – 150 m DPL;
  3. Bagian Utara : Kelompok lereng 15 – 40 %, adalah wilayah dataran tinggi merupakan daerah dengan fisiografi berbukit-bukit memiliki jenis tanah podsolik merah kuning, regosol, dan litosol, wilayah ini terdiri dari batuan yang sebagian bersifat masam dengan kandungan hara yang rendah,dengan ketinggian 150 DPL.

Kondisi Iklim

Kawasan Indonesia secara tahunan memiliki dua musim, yakni musim hujan (basah) dan musim kemarau (kering) yang masing-masing diselingi oleh periode-periode peralihan. Musim hujan berlangsung sejak Desember hingga Maret. Pada musim ini berhembus Muson Timurlaut yang dipengaruhi oleh massa udara Samudera Pasifik dan Benua Asia. Kondisi angin selama musim-musim itu bertiup dengan mantap dengan kecepatan rendah hingga sedang. Musim kemarau yang dipengaruhi oleh massa udara Benua Australia saat berlangsungnya Muson Tenggara terjadi sejak Juni hingga September. Selama periode peralihan, yakni peralihan awal tahun yang terjadi pada April-Mei dan peralihan akhir tahun yang berlangsung pada Oktober-Nopember, kondisi angin melemah dan menjadi tak stabil. Musim hujan dan kemarau tidak terjadi pada saat yang sama di seluruh pelosok kepulauan. Secara umum musim hujan mempunyai sedikit lebih banyak air dan lebih sedikit sinar matahari dibandingkan dengan musim kemarau.

Iklim daerah Kabupaten Kotawaringin Timur  secara umum beriklim tropis yang dipengaruhi oleh musim kemarau/kering dan musim hujan.  Musim kemarau pada bulan Juni sampai dengan September sedangkan musim penghujan pada bulan Oktober sampai dengan Mei. Curah hujan tertinggi selama sepuluh tahun terakhir terjadi pada bulan April yaitu 443 mm sedangkan curah hujan terendah pada bulan Agustus yaitu 83 mm. Jumlah hari hujan selama 3 (tiga)  tahun terakhir (2006 – 2008), jumlah secara rata-rata tercatat sebanyak 187 hari.  Bulan April merupakan bulan dengan hari hujan terbanyak yaitu 22 hari.  Sedangkan jumlah hari hujan terkecil terjadi pada bulan September yaitu hanya 6 hari. Suhu udara maksimum berkisar antara 31,0°C – 33,8°C dan suhu minimum antara 21,3°C – 23,4°C, kelembaban udara sekitar 85,58%. (BMG Kab. Kotim, 2008). Data curah hujan selama sepuluh tahun terakhir Kabupaten Kotawaringin Timur (Gambar 2.2).

 

Gambar 2.2. Grafik curah hujan Kabupaten Kotawaringin Timur selama sepuluh tahun terakhir (1999-2008)

Jumlah hari hujan selama 3 (tiga)  tahun terakhir (2006 – 2008), jumlah secara rata-rata tercatat sebanyak 187 hari.  Bulan April merupakan bulan dengan hari hujan terbanyak yaitu 22 hari.  Sedangkan jumlah hari hujan terkecil terjadi pada bulan September yaitu hanya 6 hari. Suhu udara maksimum berkisar antara 31,0°C – 33,8°C dan suhu minimum antara 21,3°C – 23,4°C, kelembaban udara sekitar 85,58%. (BMG Kab. Kotim, 2008)

 

Grafik hari hujan Kabupaten Kotawaringin Timur selama tiga tahun terakhir (2006-2008) dan Rataannya
Gambar 2.3. Grafik hari hujan Kabupaten Kotawaringin Timur selama tiga tahun terakhir (2006-2008) dan Rataannya

Kabupaten Kotawaringin Timur  memiliki karakter hujan tersendiri. Pola rataan curah hujan selama 10 tahun terakhir (1999-2008), memperlihatkan curah hujan yang sangat tinggi sepanjang tahun seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3. menunjukkan periode basah di kawasan tersebut terjadi pada Nopember-April. Pada periode tersebut curah hujan berkisar dari 198 mm yang terjadi pada Juni hingga 443 mm yang berlangsung pada bulan April. Total curah hujan selama periode basah terhitung sebesar 3056 mm dengan rataan 254,6 mm.

Periode kering kawasan Kabupaten Kotawaringin Timur berlangsung tidak selama periode basahnya. Kalau dilihat yang terjadi dari tahun 2002-2006 Juli-Oktober saja, yaitu berkisar  1-67 mm. Dimana selama sepuluh tahun terakhir maka yang menjadi bulan terkecil curah hujannya terjadi pada Agustus, sebayak 83 mm.

Kondisi curah hujan yang demikian menjadikan kawasan Kabupaten Kotawaringin Timur tergolong sebagai kawasan yang cukup basah. Relatif lebih lamanya periode basah dibandingkan dengan periode kering menjadikan pasokan air tawar yang menuju ke badan-badan perairan, khususnya badan perairan laut  pun menjadi relatif lebih berlimpah. Fenomena seperti ini memungkinkan salinitas estuari Kumai hampir pasti terjaga pada derajat payau di sepanjang musim, kecuali di tempat-tempat terjadi pertukaran air laut-air tawar yang kuat, seperti di sekitar mulut estuari.

Kondisi Hidro-Oseanografi

Salinitas Prairan

 

Salinitas air laut secara sederhana didefinisikan sebagai kandungan zat padat terlarut (dalam gram) yang terdapat dalam satu kilogram air laut sehingga salinitas memiliki satuan ppt (parts per thousand) atau ‰. Di lautan terbuka salinitas lapisan permukaan bervariasi dengan kisaran 33-37‰. Variasi ini secara umum merupakan fungsi keseimbangan evaporasi-presipitasi yang berkaitan dengan iklim. Daerah equatorial yang mengalami hujan paling deras merupakan area bersalinitas minimum. Curah hujan yang tinggi, akibat kondensasi udara basah panas yang naik dalam sirkulasi atmosferis equatorial, berperan dalam mengencerkan perairan permukaan equatorial. Salinitas yang rendah di laut-laut tepi Asia Tenggara, sebagai contoh, adalah disebabkan oleh besarnya limpasan sungai. Secara temporal variasi musiman salinitas permukaan pada umumnya rendah; sedangkan secara harian variasi salinitas pun tergolong sangat kecil dan tidak terjadi di tempat yang tidak memiliki variasi presipitasi dan evaporasi yang kuat. Sementara itu menyangkut pembagian salinitas di badan perairan terdapat tiga zonasi air, yakni tawar (salinitas < 0,5‰), payau (salinitas 0,5-30‰) dan asin/laut (salinitas 30-40‰).

Sebaran salinitas permukaan di perairan Kalimantan Tengah, sebagai bagian wilayah equatorial, pada (pertengahan) September 2007 berada dalam kisaran 33-33,5‰ (Gambar 2.4). Nilai salinitas semakin meningkat menuju ke laut lepas di Laut Jawa. Pada periode ini Laut Jawa tampaknya dipengaruhi oleh dua massa air besar, yakni massa air yang melewati Selat Karimata di sebelah timur dan massa air yang melintasi Selat Makasar. Massa air yang melewati Selat Karimata cenderung bersalinitas (lebih) rendah, yakni berkisar 32-33‰. Massa air yang melintasi Selat Makasar merupakan bagian dari Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) yang berasal dari Pasifik Utara. Massa air jenis ini relatif bersalinitas lebih tinggi, yakni 34-35‰ (Gambar 2.4.). 

Susupan salinitas tinggi massa air Pasifik Utara tampak menjulur dari Selat Makasar menuju ke Laut Jawa hingga bagian pesisir selatan Kalimantan. (b) Sebaran salinitas permukaan di perairan Teluk Sampit, Kalimantan Tengah tampak menunjukkan salinitas yang berkisar sekitar 21,5-25‰.
Gambar 2.4. Susupan salinitas tinggi massa air Pasifik Utara tampak menjulur dari Selat Makasar menuju ke Laut Jawa hingga bagian pesisir selatan Kalimantan. (b) Sebaran salinitas permukaan di perairan Teluk Sampit, Kalimantan Tengah tampak menunjukkan salinitas yang berkisar sekitar 21,5-25‰.

Kondisi salinitas estuari Teluk Sampit, seperti menjadi karakter beragam estuari lain, menunjukkan gradasi ketawaran yang semakin meningkat ke arah hulu dan semakin asin menuju hilir. Kisaran salinitas di diperairan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan berkisar antara dari 0-2‰, ini mencirikan masih sebagai perairan tawar. Tapi kalau diperhatikan lebih ke muara/hilir terlihat salinitas perairan mulai naik yaitu berkisar antara 2-6‰, ini sudah mencirikan sebagai perairan payau (estuaria) atau sudah merupakan daerah transisi antara perairan tawar dan laut.  Sedangkan daerah lebih ke hilirnya lagi, yaitu Kecamatan Teluk Sampit sudah merupakan daerah perairan laut.  Kecamatan Teluk Sampit ini dicirikan dari salinitasnya yang cukup tinggi, berkisar antara 17-21,5‰.  Sebaran nilai salinitas sekitar Teluk Sampit untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Sebaran salinitas di sekitar perairan Teluk Sampit

Derajat Keasaman

Penelitian yang dilakukan di sepanjang wilayah pesisir Kotawaringin Timur  termasuk kawasan estuaria Kumai, menunjukkan nilai derajat keasaman berkisar   6,2-8.  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Sebaran Derajat Keasaman (pH) di sekitar perairan Teluk Sampit
Gambar 2.6. Sebaran Derajat Keasaman (pH) di sekitar perairan Teluk Sampit

Sebaran BOD

Gambar 2.7. Sebaran BOD di sekitar perairan Teluk Sampit

Sebaran Oksigen Terlarut (DO)

 

Gambaran 2.8. Sebaran Oksigen Terlarut (DO) di sekitar perairan Teluk Sampit

Sebaran Kecerahan

Gambar 2.9. Sebaran Kecerahan di sekitar perairan Teluk Sampit

 Sebaran Suhu

Suhu permukaan laut secara temporal berubah sesuai dengan musim akibat variasi jumlah radiasi sinar matahari yang datang. Kendati demikian variasi musiman suhu di daerah equator tidak ditandai dengan kuat, yakni sekitar 2oC. Secara umum suhu permukaan laut lebih tinggi di musim panas dibandingakn dengan di musim dingin.

Suhu permukaan laut di perairan selatan Kalimantan Tengah khususnya dan Laut Jawa pada umumnya di pertengahan September 2007 memperlihatkan pola-pola juluran penyebaran terutama asal Samudera Pasifik Utara melalui Selat Makasar, di samping asal Samudera Hindia yang memasuki sistem arus Laut Jawa melalui Selat Lombok. Suhu permukaan Pasifik Utara relatif lebih tinggi senilai sekitar 29oC dibandingkan dengan suhu di Samudera Hindia bagian selatan Lesser Sunda Islands yang berkisar di sekitar 25oC (Gambar 2.10a.).

Pengaruh suhu permukaan yang tinggi dari Samudera Pasifik juga terlihat mendominasi  perairan Laut Cina Selatan hingga Selat Karimata di sebelah barat Pulau Kalimantan. Di bagian selatan perairan Kalimantan Tengah pola suhu permukaannya mengindikasikan hasil percampuran massa air antara kedua samudera sehingga nilainya pun bergerak pada kisaran 28-29oC (Gambar 2.10b.). Nilai suhu permukaan yang demikian beserta sebaran pola-polanya mengindikasikan relatif lebih besarnya pengaruh Samudera Pasifik Utara di perairan Kalimantan Tengah (dan Laut Jawa) dibandingkan dengan pengaruh dari Samudera Hindia.

Gambar 2.10. a) Sebaran suhu permukaan di Laut Jawa yang mengindikasikan pengaruh penyebaran suhu permukaan massa air asal Selat Makasar. (b) Perairan Kalimantan Tengah dironai oleh sebaran suhu permukaan senilai 28-29oC.
Gambar 2.11. Sebaran Suhu di sekitar perairan Teluk Sampit

Arus Laut

Perairan Indonesia mempunyai pola arus permukaan yang sangat dipengaruhi oleh musim barat daya (Oktober–Maret) dan musim tenggara (April–September). Pengaruh kedua musim ini jelas terlihat di Kawasan perairan laut Kotawaringin Timur .  Dengan demikian kawasan  Estuaria Teluk Sampit tentu juga terpangaruh oleh adanya arus tersebut.  Pola arus di perairan laut Kotawaringin Timur  yang mewakili empat musim yang berbeda, dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Musim Barat terjadi pada bulan Desember sampai dengan bulan Februari. Pada saat ini angin bertiup dari Barat ke Timur. Pola arus musim ini diwakili oleh simulasi arus bulan Februari. Pergerakan arus di daerah sekitar pantai jelas mengarah ke Timur akibat angin Barat, dan arus bergerak ke arah barat menuju Laut Flores dan sebagian membelok ke arah Selat Makasar. Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,02 – 3,0 m/detik.
  2. Musim Peralihan I Musim ini terjadi pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei. Pada musim ini mulai terjadi peralihan arah angin yang bergerak dari Timur ke Barat. Pola arus di musim ini diwakili oleh simulasi arus di bulan Mei. Arah arus menuju ke Barat walaupun nilainya masih kecil. Kondisi ini diakibatkan oleh kekuatan angin yang relatif masih lemah, Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 2,6m/detik.
  3. Musim Timur Musim ini terjadi dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Kondisi angin bertiup dari Timur ke Barat. Pada laporan ini pola arus hasil simulasi pada musim timur diwakili oleh pola arus pada bulan Agustus. Hasil simulasi model memperlihatkan bahwa kecepatan arus permukaan di sekitar pantai lebih kuat dibandingkan arus yang terjadi pada bulan Mei dengan arah dari Timur ke Barat. Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 2,0 m/detik.
  4. Musim Peralihan II Musim ini terjadi pada bulan September sampai dengan bulan November. Kondisi angin mulai membelok ke arah Timur atau mulai terjadi peralihan dari musim timur ke musim barat. Dengan demikian arus permukaan di sekitar pantai yang pada awalnya bergerak ke Barat mulai melemah dan kemudian akan membelok ke arah Timur. Proses perubahan ini akan diikuti oleh pergerakan massa air. Kecepatan arus permukaan pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 1 m/detik ( ITB 2002).

 Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan yang dilakukan oleh MCRMP, kisaran kuat arus di perairan laut Kotawaringin Timur  0,320 dengan kuat arus maksimum sebesar 1,65 dan terendah 0,05 m/sekon.

Arus permukaan di perairan Kalimantan Tengah, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.12a. adalah bagian dari arus permukaan Laut Jawa bagian utara. Pada pertengahan September 2007 arus di Laut Jawa tampak bergerak menuju barat-baratlaut memasuki Selat Karimata dengan kecepatan sekitar 10-25 cm/dt. Arus tersebut merupakan kelanjutan dari arus yang melintasi Selat Makasar dan Laut Banda. Dari sebelah selatan arus dari Samudera Hindia tampak memasuki badan perairan Laut Jawa melalui Selat Lombok menuju perairan timur Pulau Madura sebelum masuk ke Laut Jawa.

Gambar 2.12. Arus yang melintasi Laut Jawa, termasuk perairan Kalimantan Tengah, merupakan lanjutan dari arus yang melintasi Selat Makasar dan Laut Jawa (a). Di perairan Kalimantan Tengah arus bergerak ke barat-baratlaut dengan kecepatan sekitar 10-15 cm/dt (b).

Sementara itu dari sebelah utara arus dari Pasifik Utara bergerak memasuki Selat Makasar dengan kecepatan yang relatif tinggi hingga mencapai sekitar 40-50 cm/dt. Kendati demikian arus berkecepatan tinggi dari Selat Makasar ini tidak bergerak menuju ke Laut Jawa, namun bergerak ke selatan menuju ke Samudera Hindia melalui akses Selat Lombok. Bagian arus yang melewati Selat Makasar yang menuju ke Laut Jawa merupakan pecahan arus yang bergerak lebih lamban, khususnya saat mencapai perairan di sekitar Pulau Laut, Kalimantan Selatan saat arus bergerak dengan kecepatan di bawah sekitar 10 cm/dt. Di perairan Kalimantan Tengah pada periode tersebut, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.12b. arus tampak bergerak ke barat laut menuju perairan Selat Karimata dengan kecepatan 10-15 cm/dt.

Fenomena di atas mengindikasikan kuatnya pengaruh arus dari arah timur wilayah perairan kalimantan Selatan, yakni Selat Makassar dan bagian timur Laut Jawa. Sebagai fluida yang dinamik maka sifat-sifat biota perairan, baik menyangkut terumbu karang dan asosiasinya, sifat dan sebaran biota planktonik hingga aliran hara dan nutrien yang mempengaruhi kesuburan padang lamun di kawasan perairan Kumai lebih dipengaruhi oleh karakter perairan di sebelah timurnya dibandingkan dengan perairan di sebelah baratnya

Gelombang

Kondisi gelombang suatu perairan sebagian besar dipengaruhi oleh energi yang dihasilkan oleh tiupan angin. Kuat lemahnya gelombang ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan angin, lamanya angin berhembus (duration), dan jarak tiupan angin pada perairan terbuka (fetch). Tipe pantai umumnya landai berpasir, tinggi gelombang berkisar antara 35 – 100 cm, pecahan gelombang 300 – 850 dan periode gelombang 0,75” s/d 1’ 75”/gel. Hasil pengukuran gelombang yang dilakukan dalam rangka pengembangan pelabuhan diteluk Sigintong menunjukan bahwa tinggi gelomang signifikan (Hs = 1.48 meter)

 Aktivitas gelombang bisa mengakibatkan abrasi lingkungan pantai, dengan didasarkan pada temuan-temuan lapangan antara lain terkikisnya pondasi bangunan pantai hingga robohnya sebagian bangunan. Tinggi gelombang rerata pada perairan pesisir berkisar antara 1 – 2 meter pada bulan Oktober.

 Pengaruh musim (musim barat dan timur) terhadap kondisi gelombang dengan jelas terlihat di perairan Kalimantan Tengah. Berdasarkan sumbernya, gelombang dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu gelombang swell (gelombang rambat yang telah keluar dari daerah pembangkitnya, yaitu: angin) dan sea (gelombang yang berada pada daerah pembangkitnya, yaitu: angin). Pola umum penjalaran gelombang pada kedua musim tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

Musim Timur. Pola umum arah penjalaran gelombang laut di perairan Kalimantan Tengah mengikuti kecenderungan angin musim yang berlaku, yaitu angin musim timur. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa gelombang bergerak bersesuaian dengan pergerakan angin musim timur, yaitu dari timur menuju barat dengan kecenderungan untuk bergerak dalam arah tegak lurus pantai ketika gelombang mendekati pantai, dengan tinggi gelombang perairan dalam terletak pada kisaran 0.75 – 1 m.

Musim Barat. Secara umum, karakteristik gelombang perairan dalam di perairan Kalimantan Tengah menguat bersesuaian dengan angin musim barat yang cenderung bertiup lebih kencang dibandingkan dengan musim timur. Tinggi gelombang signifikan di perairan Kalimantan Tengah berkisar diantara 0,75 – 2 m, dengan arah penjalaran dari barat ke timur.

Pasar Surut

Pasang surut yang sering disingkat dengan pasut merupakan gerakan naik-turunnya permukaan laut secara (hampir) periodik yang disebabkan oleh gaya tarik benda-benda astronomikal, terutama bulan dan matahari terhadap tubuh perairan di bumi. Sebagai pemicu pasut, pengaruh bulan jauh lebih besar dibandingkan dengan pengaruh matahari karena meskipun massa bulan sangat kecil dibandingkan dengan massa matahari, namun posisi bulan relatif jauh lebih dekat dengan bumi dibandingkan dengan posisi matahari. Oleh sebab itu  pasut seringkali dikaitkan (terutama) dengan kedudukan bulan. Pada saat bulan penuh, seperti saat bulan purnama, pasang yang terjadi di suatu perairan seringkali terlihat lebih besar dan surut yang terjadi tampak lebih jauh ke arah laut dibandingkan dengan saat-saat bulan tidak penuh.

Pasut dapat bervariasi baik secara temporal maupun spasial. Variasi pasut secara temporal terjadi akibat variasi jarak serta arah bulan dan matahari; sedangkan ukuran pasut bervariasi secara spasial karena perbedaan konfigurasi pantai dan topografi dasar laut.

Kondisi pasut perairan Kumai dapat diprediksi melalui kondisi pasut yang terjadi di Sungai Kotawaringin Timur sesuai dengan posisi yang dipilih Dishidros TNI-AL dengan menganggap adanya keseragaman konfigurasi pantai maupun topografi dasar laut sesuai dengan perspektif area cakupannya yang memang relatif dekat.  

Hasil perhitungan konstanta-konstanta pasut (tidal constants) sesuai prediksi Dishidros TNI-AL selama bulan Oktober 2007 di perairan Sungai Kotawaringin Timur, sebagai misal, diperlihatkan pada Tabel 2.1 Berdasarkan nilai-nilai konstanta-konstanta pasut yang diperoleh tersebut, penentuan jenis pasut melalui rumus Formzahl (F) menghasilkan nilai 1,86. Dengan nilai F sebesar itu, maka jenis pasut di perairan Kumai dapat dinyatakan sebagai ”pasang campuran dominan tunggal” (mixed tide prevailing diurnal) yang berarti bahwa dalam sehari terjadi sekali pasang dan sekali surut dengan tinggi dan waktu yang amat berbeda, disertai dengan variasi hari saat dalam sehari dapat terjadi dua kali pasang dan dua kali surut.\

Tabel 2.1. Ragam konstanta pasut perairan Sungai Kotawaringin Timur pada Oktober 2007

Pola harian pasut berjenis pasang campuran dominan tunggal di wilayah kajian dengan mengambil tiga hari yang berbeda, yakni tanggal 5, 15 dan 25 Oktober 2007 ditunjukkan pada Gambar 2.15. Tampak pada gambar tersebut bahwa pada pola pasut harian dengan dua kali pasang dan dua kali surut terjadi pada tanggal 5 dan 25 Oktober 2007; sedangkan pola pasut harian dengan sekali pasang dan sekali surut dalam 24 jam terjadi pada tanggal 15 Oktober 2007. Meski dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut namun tinggi dan waktunya sangat berbeda. Pada tanggal 5 Oktober misalnya, pasang pertama setinggi 1,7 m terjadi pada pukul 01.00-02.00 dan pasang kedua berlangsung pada pukul 14.00-15.00 dengan capaian tinggi hanya 0,9 m. Pada tanggal yang sama surut pertama berlangsung pada 09.00-10.00 saat tinggi paras laut 0,5 m disusul surut kedua setinggi 0,7 selama pukul 17.00-20.00.

 

Gambar 2.15. Fluktuasi pasut pada tiga hari yang berbeda selama Oktober 2007 yang menunjukkan ketaksamaan tinggi serta waktu-waktu terjadinya pasang dan surut yang menyolok, di samping kecenderungan terjadinya ketaksamaan jumlah pasang dan surut dalam sehari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hubungi Kami

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kotawaringin Timur :